Ini Sebabnya, Mengapa Banyak Istri Yang tidak Berkembang Setelah Menikah

Oleh: Indra Sakti, Psi - ”Ustadz, mengapa sejak menikah, saya merasa tidak berkembang. Otak sepertinya beku. Apa sih yang sebenarnya terjadi?” Pertanyaan ini diajukan oleh seorang wanita muda yang tampaknya belum lama menikah. Pertanyaan ini ia ajukan dalam sebuah seminar tentang problematika kehidupan rumahtangga. Kebetulan saya juga hadir sebagai pembicara di sana.



Mendengar pertanyaan itu, saya mencoba membayangkan apa yang dialami oleh  wanita muda itu. Mungkin tadinya ia seorang wanita yang aktif dan dinamis, ia juga selalu ingin berkembang. Namun setelah menikah, hidupnya jadi tak penuh warna. Ia hanya disibukan oleh aktifitas keiburumahtanggaan, seperti mencuci, memasak, belanja keperluan sehari-hari dan beres-beres rumah. Sampai batas waktu tertentu, rutinitas ini bisa jadi telah membuatnya bahagia. Namun lama kelamaan ia jadi bosan dan akhirnya merasa tak berarti.

Ustadz yang ditanya menjawab dengan tangkas. Menurutnya, pernikahan tidak seharusnya membuat seseorang menjadi mandeg. Justru dengan menikah seorang  wanita harus makin cepat berkembang. “Bukankah  setelah menikah ia jadi punya  guru pribadi, yaitu suaminya.” Lebih jauh Pak Ustadz menjelaskan, salah satu tugas suami adalah mendidik istrinya agar menjadi wanita shalihat. “Jadi,” masih kata Pak Ustadz, “permasalahannya bukanlah pada masih lajang atau sudah bersuami. Masalahnya adalah bagaimana kita memanfaatkan peluang yang  ada untuk belajar dan mengambangkan diri.”

Semangat belajar yang langka

Memang, kesempatan  untuk belajar dan mengembangkan diri adalah peluang yang sering diabaikan banyak orang. Ada yang karena semangat belajarnya rendah, atau ada yang karena tidak mampu mengindentifikasi situasi yang dapat dimanfatkan untuk belajar.

Dalam masyarakat kita, orang dengan semangat belajar yang konsisten terbilang langka. Kebanyakan orang padam semangat belajar setelah ia menyelesaikan jenjang sekolah tertentu. Di antara mereka, bahkan tak berupaya mengoptimalkan proses belajarnya di bangku sekolah. Mereka tak benar-benar berupaya memahami apa yang diajarkan.

Semangat  belajar memang barang mahal. Yang pertama karena semangat belajar sulit didapat. Semangat ini tak bisa tumbuh begitu saja dalam diri seseorang. Ia harus diawali rasa ingin tahu yang kuat. Ada orang yang memiliki rasa ingin tahu permanen dan ada yang situasional. Rasa ingin tahu permanen tumbuh dari pola asuh orangtua sejak masa balita. Rasa ingin tahu menguat sejak anak berusia sekitar dua tahun. Ada orang tua yang dengan antusias melayani segenap pertanyaan anaknya sambil merangsang si kecil untuk terus mencari tahu. Tapi ada juga orang tua yang justru mematahkan dan mencemooh keingintahuan anaknya.

Rasa ingin tahu yang bersifat situasional muncul karena tiba-tiba seseorang dihadapkan pada situasi yang tidak ia mengerti. Atau ketika ia merasa tak berdaya menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Pada situasi ini bisa saja muncul rasa ingin tahu yang diikuti semangat belajar. Tapi bisa juga orang ini melarikan diri dari persoalan dan tidak berusaha memahami situasi dan masalahnya. Jadi semangat belajar memang sulit sekali muncul dalam diri seseorang.

Selain
itu, semangat belajar jadi mahal karena nilainya yang tinggi bagi kehidupan seseorang. Belajar merupakan amalan wajib bagi setiap mulimin dan muslimat, begitulah yang diwasiatkan Rasulullah kepada kita. Beliau mengatakan, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslimin dan muslimat.” Selain itu beliau juga mengatakan dalam hadistnya bahwa untuk menggapai kehidupan di dunia dan di akhirat kelak, orang harus menguasasi ilmunya. Dan masih menurut sabda Rasulullah, ilmu itu hanya bisa dikuasai dengan belajar.

Belajar dari banyak hal

Belajar, dalam hal ini, tidak selalu identik dengan membaca, apa lagi duduk di bangku sekolah atau kuliah. Benar, bahwa dalam surat Al Alaq, Allah menjelaskan bahwa Ia mengajari manusia melalui perantaraan pena. Ini artinya membaca. Tapi, para ahli tafsir mengatakan, perintah baca dalam surat ini tidak hanya membaca sesuatu yang tertulis. Membaca yang dimaksud juga termasuk membaca situasi dan memahami keadaan. Munculnya berbagai pemahaman terhadap fenomena alam dan sosial, tidak lain karena para ilmuwan mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Jadi sebenarnya banyak cara untuk melajar dan banyak kesempatan dapat digunakan untuk belajar.

Dalam interaksi dengan anak, seorang ibu dapat mempelajari dunia anak, cara berfikir mereka, situasi emosi mereka, apa yang membuat mereka senang dan bersemangat, apa yang membuat mereka bersedih dan menarik diri. Ini bukan ilmu murahan. Tak sedikit ahli psikologi anak mengembangkan teorinya melalui pengamatan yang intensif terhadap anak mereka sendiri. Ambil contoh Jean Piaget, ahli ini mengembangkan teroi perkembang kognitif anak, pertama kali didorong oleh pengamatannya terhadap cara berfikir anaknya sendiri. Baru kemudian ia mengembangkan riset lebih lanjut.

Tatkala seorang ibu memasak di dapur, ia sebenarnya dapat mempelajari berbagai resep masakan, melatih keahliannya memasak, bahkan mengembangkan resep resep baru. Ingat kapten Sander, sang pencipta resep Kentucky fried chicken yang terkenal itu? Resepnya lahir karena ia memang hobi memasak. Ahli-ahli masak besar  yang berpenghasilan puluhan juta pun lahir dari kegemaran dan kebiasaan memasak.

Belajar tidak hanya melalui buku apalagi bangku sekolah. Belajar bisa dilakukan dengan bertanya pada orang, mengamati cara mereka bekerja, mengamati tingkah laku mereka dan apa konsekwensi yang mereka terima dari prilaku tersebut, mendengarkan nasihat orang lain, mengikuti seminar dan diskusi atau melakukan eksperimen kecil-kecilan. Pendeknya banyak situasi yang dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan serta mengembangkan diri. Tinggal apakah kita peka tehadap peluang itu atau tidak.

Inilah masalah yang dihadapi wanita pada cerita di atas. Ia sangat ingin untuk mengembangkan pengetahuan dan  ketrampilan, tapi ia seakan tak berhasil mendapatkan peluang untuk belajar. Ini bisa terjadi karena ia menganggap tidak ada yang istimewa pada hari-hari yang ia lalui. Ia merasa hidupnya adalah lingkaran rutinitas, tak ada hal baru dan tak ada yang benar-benar bermakna bagi pengembangan dirinya. Ini juga berkaitan  dengan kemampuannya mensyukuri dan mengevaluasi hari yang telah dilalui.  Ini juga bisa karena pandangannya bahwa belajar harus dengan buku dan bangku sekolah.  

Persoalannya, bagi kita yang telah terlanjur dewasa, bagaimana cara menyalakan api semangat belajar dalam diri kita? Dan menumbuhkan kepekaan bahwa segala situasi yang kita alami  dapat jadi peluang untuk belajar? Bak kata pepatah, ’alam terkembang dijadikan guru’. Allah pun telah berfirman kepada kita dalam surat Yusuf ayat 105, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya.”
(sumber: ummi-online)

Paling banyak dibaca