Kisah Inspiratif Perjalanan Religi ke Makam Nabi Hud






Nabi Hud. Dialah salah satu nabi yang dikisahkan dalam Al-quran. Dalam Kitab Suci, namanya disebut sebanyak tujuh kali. Dia diyakini hidup sektar tahun 2400 SM, dan wafat d Hadhramaut, Yaman.

Di sekitar makam Nabi Hud, terdapat permukiman dan pasar dadakan. Area itu memang ramai, namun saat bulan ziarah saja, yaitu pertengahan akhir Rajab dan pertengahan awal Sya’ban.

Memang, masyarakat setempat punya tradisi, di antara dua bulan itu berziarah ke makam Nabi Hud. Tradisi itu dihidupkan oleh Syeikh Abu Bakar Bin Salim, seorang wali besar dari keturunan Sang Nabi.

Seperti apa suasana makam Nabi Hud? Berikut pengalaman Sahabat Dream, Imam Abdullah El-Rashied, saat berziarah ke makam Nabi Hud:

Saat itu malam masih pekat, hawa begitu dingin menyapa, mata terbuka saat jam dinding baru mendaratkan jarumnya tepat di angka 2, saat-saat di mana mata ini masih ingin dimanja oleh keempukan pembaringan.

Dalam hening tanpa angin, dalam sunyi yang dingin, mobil dan bis mulai menyalakan mesin. Yah, sebuah perjanjian untuk berziarah dinihari ini sudah terjadwal.

Berusaha bangkit mengusap keletihan mata, mencoba mengusapkan air wudhu di hamparan muka. Kamar mandi yang diam sejak tadinya, kini mulai bernyanyi menyenandungkan percikan air mereka yang sedari lama menanti.

Selangkah demi selangkah, seorang demi seorang, hingga rampung sudah, kamar mandi menyepi kembali untuk kesekian kalinya. Mereka yang berpakaian serba putih bertekuk lutut di hadapan Tuhannya, nampak begitu tenang, khusyuk dalam peribadahan dengan do’a yang dipanjatkan dalam penuh kabul yang diharapkan.

Kami pun keluar untuk persiapan, kulihat wajah langit masih kelam, namun ada sedikit taburan cahaya yang menemaninya. Perlahan tapi pasti, Rembulan dan Bintang memudar silih berganti, tenggelam beriringan, tanpa membekaskan secercah cayaha, namun masih menyisakan banyak kerinduan.

Udara yang dingin kian lama menghangat tercampur desah nafas saat kami memasuki bis, sedangkan AC belum bekerja. Jam digital bis menunjukkan angka 02.30 a.m., ini artinya bis harus segera menggerakkan roda-rodanya yang hampir beku semalaman karena terselimut angin lembah di luar rumah.

Diam-diam aku pejamkan mata agar perjalanan ini tak melelahkan, agar jarak yang cukup jauh bisa terlipatkan. Tiba-tiba saja, bis yang kami naiki berhenti, aku kira kenapa. Pantas saja, tuturku dalam hati. Jam digital bis menunjukkan angka 03.30 dinihari, itu artinya kami telah tiba di tujuan utama, Kota ‘Inat.

Ya, kami berhenti di kota ini untuk meniziarahi Syeikh Abu Bakar Bin Salim, seorang Wali besar dari keturunan Sang Nabi. Beliau hidup di Abad ke-9 Hijriyah. Dan beliau juga membuat tradisi baru pelaksanaan ziarah Nabi Hud a.s. di bulan Sya’ban. Meski sebenarnya ziarah Nabi Hud a.s. sudah ada sejak 4.000 tahun silam.

Penuh Khusyuk, Yasin secara serentak terlanturkan dari lisan kami, dengan sedikit kantuk. Do’a dan tawassul terus terpanjatkan hingga pimpinan rombongan melantangkan ucapannya dengan kata Al-Fatihah.

Sayup-sayup hening suasana pemakaman, pasir putih yang dingin, kubah-kubah tanah yang berjejer, tertiup merdu oleh lantunan Qoshidah seorang mahasisawa asal Jeddah, Saudi Arabia.

Selepas memberikan takdzim terakhir kepada Syeikh Abu Bakar Bin Salim, kami melangkahkan kaki menuju Masjid di sebelah pemakaman. Jam di hpku melukiskan angka 04.00 a.m, itu artinya azan Subuh sudah waktunya dikumandangkan. Liuk-meliuk penuh semangat, menara-menara Masjid se-kota ‘Inat melantunkan azannya.

Sebagian kami bergegas menuju kamar mandi, ada yang sekadar memperbarui wudhunya, ada pula yang menuntaskan hajatnya. Semua anggota rombongan yang nyaris genap 50 orang itu secara serentak meneriakkan Takbir sambil mengangkat kedua tangan di belakang Imam.

Sholat Subuh di tengah hening pagi yang masih gelap. Selepas sholat, kami pun lanjutkan perjalanan menuju ke Lembah Hud, sedangkan jam yang berkelap-kelip di bagian depan bis memberi isyarat angka 04.30 pagi, yah perjalanan menuju ziarah dilanjutkan kembali.

Saat itu punuk-punuk perbukitan Lembah Hadhramaut masih tertidur pulas, terpoles embun-embun pagi yang nyaris beku lantaran tak berjumpa mentari. Udara yang sengang, sunyi tak bersuara. Kiri kanan jalan terpagar rapi oleh bukit-bukit terjak yang ringgi menjulang. Sepanjang jalan dari ‘Inat ke Lembah Hud, kami hanya ditemani oleh sapaan bukit-bukit batu berpasir yang bisu itu.

Beberapa wirid yang sempat kami tunda setelah Sholat Shubuh, kami lanjutkan lantunannya di dalam Bis. Suasana yang mulai tak asing bagi kami, serentak menyuarakan Wirid dari atas kursi-kursi yang tak cukup empuk, maklum ini adalah bis bukan mobil eksekutif.

Diam-diam mataku terlelap menemani perjalanan ini, “ah biarkan saja,” ungkapku, perjalanan masih dua jam lagi dengan kecepatan 100 km/jam. Menjelang pukul 06.30 pagi, mataku mulai menutup kelopaknya, setelah begitu redup aku tenggelam dalam mimpi.

***

Cahaya mentari sudah nampak menguning keemasan menyapa pundak perbukitan Lembah Hud. Tambah dekat, nampak rumah-rumah pemukiman dan pasar dadakan di sekiling jalan. Yah, ini adalah area Makam Nabi Hud a.s., sebuah area yang hanya dihuni di bulan ziarah, yaitu pertengahan akhir Rajab dan pertengahan awal Sya’ban.

Turun dari bus, memasuki rumah tanah yang berloteng. Menaiki loteng dan menghirup udara segar lembah yang asri. Ramai-ramai orang memadati area pemakaman tanpa ada isyarat, namun sedikit tertib menempati jalurnya masing-masing.

Teh susu yang sudah disiapkan sejak sebelum kami tidur semalam, kini mulai dipanaskan kembali di atas kompor gas berlobang satu arah di atas tabung kecil. Hangatnya minuman itu telah mencairkan nafas kami yang nyaris membeku karena udara lembah di pagi ini. Setiap orang mengambil sepotong roti panjang, dengan sebutir telor rebus dan sambel abc sashet, kamipun melahap dengan sekasama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Dari atas loteng, perbukitan yang curam, perkebunan yang rindang, serta area pemakaman yang kian tersesakkan, tak kami lupakan untuk diabadikan dalam album kenangan. Suara jeprat-jepret dari satu hp ke hp lainnya, sahut-menyahut beriringan, nampak paduan suara saja.

Namun sayang, foto sebagus apapun tak bisa langsung kami upload ke media sosial, di sini tak ada jaringan telepon, tidak GSM tidak pula CDMA, karena area ini tak berpenduduk kecuali di musim Ziarah, kamipun maklumi itu.

Sebanyak 47 orang yang berangkat ziarah itu terkotak-kotak menjadi 5-6 orang pergrup. Hal ini dirasa akan mempermudah pengawasan di tengah desak-sesak keramaian ribuan peziarah. Setiap grup memiliki satu pimpinan, di mana dia bertanggung jawab penuh mengawal grupnya dan harus pulang bersama tepat jam 10.30 pagi. Kembali ke rumah tanah ini.

Setiap grup mulai bergerak satu persatu, sesuai aba-aba dari awal setiap grup diperkenan mengikuti Maulid dan Rombongan besar prosesi Ziarah tersebut.

Ada rombongan di bawah panji Syeikh Abu Bakar Bin Salim yang dipimpin oleh Habib Umar Bin Hafiz. Ada pula Maulid-Maulid yang dipimpin oleh ulama’ lainnya di area yang sama dan di lokasi yang berbeda.

Ada yang memulai tuk berendam dulu di Sungai Al-Hafif, sungai yang sering dijadikan mandi oleh para Ulama’ dan Wali bilamana mereka berziarah. Sayapun menjadi salah satu dari yang merendam diri di tengah sejuknya air Sungai Al-Hafif.

Selepas berendam dan berwudhu, kami naik ke pelataran sungai yang sudah disiapkan Musholla di sampingnya. Orang-orang melaksanakan Sholat Dhuha sambil lalu menunggu rombongan Habib Umar Bin Hafiz. Dalam hening gerakan Sholat, tiba terdengar suara rebana tertabuh dengan semangat, lantunan qosidah mengudara di Lembah Hud, rombongan Habib Umar datang membawa sekitar 5 panji. Hanyut dalam dzikir dan do’a bersama, rombongan dilanjutkan menuju Makam Nabi Hud a.s.

Sesak penuh keringat, jalan-jalan mulai tertutup rapat oleh peziarah. Maju kena mundur kena, bak suasana di terowongan mina kala haji. Untungnya tak ada satupun orang yang jatuh terinjak-injak. Dalam cucuran keringat, rombongan terhenti di depan Sumur Taslum. Salam-salam dioanjatkan untuk Baginda Rasulullah SAW, para Rasul dan para Wanita pimpinan wanita surga.

Rombongan kembali menggemakan nasyid, mengudara memenuhi lembah Hud. Sedikit menukik, menanjak dan sedikit terjal. Rombongan terus naik ke lereng bukit. Sampai di Kubah Makam Nabi Hud a.s., penuh khidmat semua peziarah memberi hormat. Dilanjut do’a, dzikir dan tawassul. Semua khusyu’ dalam do’a di bawah terik mentari yang kian menyengat.

Sholawat dan Qoshidah terus berkumandang. Hingga Habib Umar turun ke Masjid di samping Makam. Beliau memberikan tausiyah, dilanjutkan oleh Habib Abu Bakar Al-Masyhur, beliau berdua adalah Singa Podium yang kian sering berkunjungke Indonesia belakangan ini, berusaha kembali menyambung hubungan Islam Indonesia yang berakar dari Islam Hadhramaut.

Menjelang Zuhur kurang satu jam, jema’ah ziarah pun bubar entah ke mana. Ada yang masih menginap, ada pula yang langsung pulang. Kamipun kembali ke rumah tanah tadi. Istirahat sejenak, kemudian melaksanakan Sholat Zuhur dan Ashar yang dijamak, setelah beberapa saat suara Adzan melantun di udara yang sesak.

Selesai sholat, ada ayam goreng menanti di atas talam yang penuh nasi, cukup untuk 5 orang dengan sambal merah yang serasi. Selepas makan, berdiam tenang memegang hp sambil melepas keletihan.

Pukul 02.45 siang, bus berputar balik menuju kita Tarim dan mata ini kembali meredup di tengah goncangan ban-ban yang tak ramah, namun tetap saja mata ini tak mampu mengangkat kelopaknya hingga jam di bus menunjukkan angka 04.12 sore, sedangkan bus telah berhenti di depan asrama. Letih dengan sejuta harap dan kenang, semoga Ziarah ini Allah terima sebagai ibadah yang ikhlas, Aamiin.

Tarim – Yaman, Selasa 10 Sya’ban / 17 Mei 2016

Sumber: dream.co.id


Paling banyak dibaca