4 Tingkatan Nama Manusia yang Dijelaskan Dalam al-Qur’an





Ada sebuah pepatah dari cendekiawan kita yang mengatakan “orang bijak bukanlah orang yang mampu  melerai pertikaian’’, Melainkan orang bijak adalah orang yang mampu mengambil satu kesimpulan di antara dua persoalan yang sama buruknya”. Manusialah pelaksana tugasnya, Yang melerai, mengambil kesimpulan, serta manusia pulalah yang merusak kemudian membangun kembali dan merusak lagi. Bahkan membuat baru dan kembali memperbaiki.

Untuk mencapai kesempurnaan menjadi yang sebenarnya manusia, pastinya memerlukan tahap tahap tertentu. Sebagaimana manusia, yang awalnya tiada dan dengan kekuasaan Ilahi ia bermukim di dalam rahim, dan kelahirannya pun senantiasa  dirayakan. Setelah itu, manusia bergelar menjadi balita, remaja, dewasa, berumur kemudian tua dan tiada.

Lantas, bagaimana pandangan Al-Qur’an menilai manusia?. Suatu ketika kehadiran manusia dengan segala kebijaksanaannya dinanti-nanti, serta ketidakhadirannya dirindukan. Ada pula manusia yang lain sibuk menilai manusia lainnya. Ada lagi manusia yang sibuk untuk berkarya agar ‘’dianggap’’, ada juga agar menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi sesamanya. Namun menghina dan menghardik orang lain, Seolah-olah menjadi hukum kehidupan. Sementara, dalam Al-Quran telah menyebutkan nama-nama manusia dengan memiliki 4 makna, serta tingkatan yang perlu anda ketahui. Berikut keterangannya:

1. Al-Qur’an Menggelar Manusia Dengan Sebutan Yaa Bani Adam “Anak Cucu Adam”
Al-Qur’an menyebutkan tentang Bani Adam sebanyak 9 kali, di antaranya juga terdapat dalam surah Yasin ayat 60. Jika kita perhatikan lebih seksama, ayat ini mengarahkan manusia dari segi amaliah, juga sebagai upaya mengenal diri sendiri atau memahami tingkatan kita dalam Al-Qur’an.

Sebagai contoh dalam segi amaliah, mari kita simak terjemahan ayat di bawah ini:

(QS. Al Isra [17]:70) “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

2. Manusia Dengan Sebutan Basyarun
Manusia dengan gelar ‘’basyarun’’ disebutkan sebanyak 36 kali, dan tersebar di dalam 26 surah. Secara etimologi ‘’basyar’’ berarti kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya segala macam rambut. Selain itu, ayat ini menjelaskan bila manusia dipenuhi dengan keterbatasan termasuk membutuhkan makan dan minum. Berikut ayat yang menjelaskan tentang basyarun, dikisahkan oleh Muhammad SAW, yakni manusia yang terdiri dari berbagai organ tersebut sangat rentan melakukan persekutuan kepada Allah SWT’’.

QS. Al Kahfi ayat 110, ‘’Katakanlah, Sesungguhnya aku Ini (Muhammad) manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh, dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya

3. Manusia Dengan Sebutan an-Nas
Untuk manusia dengan sebutan An-nas, 241 kali disebutkan di dalam 55 surah. Sebutan An-Nas merupakan paling banyak diungkapkan, seakan memberikan pesan bahwa manusia dari macam inilah yang banyak ditemukan. Di antaranya ayat yang menyebutkan tentang An-nas di surah An nisa ayat 174:  ‘’Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya), dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)’’.

4. Manusia Dengan Sebutan Insan
Asal kata dari Insan berasal dari kata ‘’al-uns’’, Dan sebanyak 65 kali disebutkan dan tersebar di dalam 43 surat. Insan dapat diartikan lemah lembut, harmonis, tampak, atau pelupa. Kata ini digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyampaikan tentang manusia yang kemanusiaannya secara totalitas Jiwa dan raga. Manusia yang telah sampai pada segi insan yang sempurna yakni ‘’kamil’’, Bermakna: ‘’manusia sempurna’’, yang memang susah ditemukan. Karena umumnya manusia seperti ini memilih menepi meninggalkan segala hiruk pikuk dunia.

Namun tidak menutup kemungkinan mereka juga ada di antara kita, Tanpa mencolok tapi kehadirannya benar-benar ada. Sebagaimana yang diungkapkan Haidar Baqir (cendekiawan islam), saat beliau ditanyai oleh salah seorang peserta seminar, “Apakah insan kamil itu ada pada zaman ini?”, dengan tegas beliau menjawab “Saya yakin ada, Tidaklah mungkin disebut-sebutkan dalam Al-Qur’an jika hal itu mustahil dicapai manusia’’.

Sumber: asadenanyar.com


Paling banyak dibaca