"Berkali-kali Anakku Dibilang Gila" Sungguh Nangis Saya Bacanya!



SUATU hari ada seorang ibu yang bercerita kepada saya. Terlihat, airmata ibu itu berkaca-kaca tatkala ia bercerita.

“Hati saya sakit bu, anak saya disebut gila,” ujar ibu tersebut.
Saya tertegun, tak mampu berkata-kata. Saya tak bisa merasakan apa yang ibu rasakan. Saya hanya melihat kesedihannya yang dalam.

“Pernah suatu hari, anak tetangga yang menyebut anak saya gila. Kemudian saya cegat di jalan, lalu saya bilang ke mereka, anak saya tidak gila, dia nyambung kalau diajak bicara, dia bisa bersekolah”, serunya menambahkan.

“Sejak saat itu, anak tetangga tak terdengar menyoraki lagi, tapi hati saya masih sakit”, imbuhnya lagi.
Lagi-lagi saya tertegun hanya bisa bersimpati, duduk diam mendengarkan. Ia bukan anak saya, bukan juga keponakan saya bahkan bukan juga murid saya. Namun saya merasakan kesedihan sang ibu yang dalam.

Merasakan sakit hatinya sang anak diperlakukan demikian. Ayah, nenek, om, tante, guru pun seperti tak menghiraukannya. Ia nampak tak diterima dilingkungannya.

Kemudian dalam benak saya berpikir, saya yakin Allah tidak akan menciptakan sebuah produk gagal. Anak yang istimewa ini, tak terbangun potensinya karena mungkin kesalahan orangtua, guru dan lingkungannya.

Butuh kesabaran luar biasa jadi orangtua, butuh keikhlasan tak terhingga, saat anak tak tumbuh juga berkembang seperti seharusnya, orangtua tak boleh abai jika tak ingin terjadi masalah yang lebih parah.

Selidik punya selidik, ternyata perasaan tak diterima, diabaikan bahkan seolah-olah dibuanglah yang membuatnya bersikap “aneh” menurut lingkungannya. Namun ketika dia diberi makanan, program bahkan perlakuan yang memanusiakan sesuai tahapan perkembangan, ia bisa tampil mencengangkan. Anak yang dibilang gila, bisa menjadi sosok yang berbeda. Kuncinya, buat dia nyaman dan bahagia. []

Paling banyak dibaca